Minggu, 24 Februari 2013

Kado Pertama untuk Ananda

Ditatapnya bocah itu dengan kasih sayang. Dibelainya rambut ikal mengombak itu. Kemudian wajahnya beralih ke arah suami yang duduk di sampingnya.
“Kasihan anak ini… masa kanak-kanaknya tergadai dengan kehidupan jalanan yang keras.” Menatap mata suami dengan tetes air mata yang tak mampu ditahan.
“Benar, dik… Sungguh malang nasib anak ini. Disaat banyak pasangan menginginkan keturunan, justru di luar sana anak-anak ditelantarkan.
“Maafkan Aini, mas… Aini belum bisa memberikan keturunan. “ Air mata semakin deras tak terbendung.
“Bukan salahmu, dik… mungkin Allah belum berkehendak.”
            Sudah lebih tujuh tahun masa pernikahan kami. Kami menikah lima bulan setelah aku menyelesaikan studi di Fakultas Psikologi, sedang Mas Adnan, suamiku telah bekerja di sebuah perusahaan swasta di Ibu kota.
            Kami memulai sebuah kehhidupan baru dengan mengontrak sebuah rumah sederhana hingga Mas Adnan diangkat sebagai pegawai tetap dengan gaji yang lumayan dan kami akhirnya mampu untuk membeli sebuah rumah mungil yang lebih sehat walau dengan cara angsuran.
            Setelah diangkat sebagai pegawai tetap, Mas Adnan makin sibuk bekerjaguna menambah penghasilan untuk segera melunasi rumah mungil kami. Sedangkan aku mulai sibuk dengan pekerjaan baruku sebagai tenaga konseling di sebuah SMA.
            Meski kami hidup bahagia dengan balutan kesederhanaan namun kami merasa sepi tanpa kehadiran buah hati.
“Ibu sudah semakin senja, Aini… Ibu ingin sekali menimang cucu sebelum Ibu pergi.” Keluh ibu mertuaku setiap berbicara di telepon. Aku hanya membisu karena kecamuk dalam hati tak bisa kulukiskan.
            Mas Adnan tidak pernah mengeluh akan hal itu, tapi binar-binar di matanya mampu lukiskan bahwa batinnya sangat sepi. Sering di sepertiga malam, aku melihat suamiku menangis dalam muhasabahnya, meminta keikhlasan Sang Pencipta untuk memberikan keturunan pengisi jiwa.
            Akhirnya yang dinanti-nanti pun hinggap, aku positif hamil. Betapa bahagianya seluruh keluargaku mendengar hal ini. Inilah jawaban atas doa-doa dan air mata di sepertiga malam-Nya yang agung.
            Berbulan-bulan kulewati dengan ucap syukur yang menghambur. Tak terasa sudah genap delapan bulan usia kandunganku. Bulan-bulan pertama merupakan masa sulit bagiku, makan tak nafsu dan mual-mual. Namun aku menjalani hariku seperti biasa serasa tak ada beban berat di perutku. Bearngkat ke sekolah, menjadi pembicara beberapa seminar, menghadiri pengajian pekanan, dan kegiatan-kegiatan lain yang cukup menguras energi.
            Sebenarya Mas adnan melarangku untuk bekerja, tapi aku tidak mau menjadi istri yang hanya konco wingking. Aku lebih suka menjadi wanita karier namun tetap mengutamakana keluarga.
Semenjak bulan pertama kehamilan, Mas Adnan sangat antusias mempersiapkan segala sesuatu untuk calon bayi kami. Terlebih ia pun telah membuat rencana pendidikan lengkap sampai perguruan tinggi untuk janin dalam kandunganku. Bahkan ia tlah menyiapkan kado special untuk calon bayi kami. Entahlah, aku pun tak tahu isi kado itu. Sempat kutanyakan, tapi tak pernah ada jawaban. Petanyaanku hanya dijawab dengan senyum yang mengembang.
            Hari yang ditunggu-tunggu pun mnetas. Proses persalinan berjalan alot karena posisi janinku tidak berda pada posisi seharusnya. Lebih dari lima jam rasa sakit menggerogotiku, sampai akhirnya bayi cantik kami lahir tepat di sepertiga malam, waktu biasa kami bermuhasabah kepada-Nya.
Senyuman simpul suamiku meresap tepat di hatiku, binar-binar cinta melingkarkan harap  di sudut matanya. Binar-binar itu semakin nampak tatkala ia tengah membisikkan adzan di telinga bayi kami. Ibu mertuaku tersenyum puas atas kehadiran cucu pertamanya, semua keluarga besar kami menyambut girang kehadiran malaikat kecil kami.
Kebahagiaan kami serta merta tergores, ketika  dokter memberitahukan bahwa ada kelainan pada jantung bayi kami. Kebahagiaan kami hancur sempurna ketika dokter menambahkan bahwa bayi kami tidak akan bertahan lama dengan kelainan yang dideritanya. Dokter tidak mampu berbuat apa-apa karena bayi kami masih terlalu kecil untuk dilakukan operasi besar.
Suasana berubah drastis, aku semakin lemah dan jatuh tak sadarkan diri.  Sementara binar-binar cinta di sudut mata Mas Adnan berubah menjadi tangis air mata. Serta merta ia mendekap bayi cantik kami dan berbisik pelan.
“Ayah mencintaimu, ananda sayang… Biarlah kado untukmu tersimpan hingga suatu saat nanti kita akan kembali dipertemukan dalam dekapan surga-Nya.”

***

readmore »»  

Kamis, 21 Februari 2013

Kelanjutan Ceritaku, Pelangi... ^^

Halo, Pelangiku… ^^
Baik-baikkah kau disana? Semoga kamu selalu dalam lindungan-Nya. Aamiin
Kamu masih ingat gak, Pelangi? Itu tuh waktu itu aku pernah janji untuk menceritakan sesuatu padamu. Masih ingatkah? Jawab dong, jangan diem aja hehe.
Sesuatu itu adalah…
Kasih tau gak ya? dengdengdeng… *pasang backsound yang bikin penasaran. :D
Dulu aku kan pernah nyeritain gimana ceritanya aku bisa mengagumimu, inget kan?
Naaah, sekarang aku mau nyeritain kelanjutannya. Dengerin ya, cekidot!
Ups, ane lupa. Jangan bilang siapa-siapa yah? Cukup kita dan Allah saja yang tau.
Jika kamu menanyakan alasan kenapa aku bisa mengagumimu maka sampai kapanpun aku tak akan bisa menjelaskannya, Pelangi. Yang aku tau kamulah satu-satunya yang bisa membuatku terkagum-kagum bahkan sejak pertama bertemu hingga sekarang. Bukan karena fisikmu yang tampan, Pelangi. Sama sekali bukan itu alasannya. Memang kamu sangat tampan, tapi menjadikan ketampananmu sebagai alasan kurasa bukan suatu kebijaksanaan. Satu-satunya alasan yang paling bijaksana adalah mengembalikannya kepada Sang Pemilik Hati yaitu Allah Rabbul Izzati. Allah-lah pemilik hatiku, tentu Allah yang paling tahu isi hatiku.
Pelangi, aku memang sangat mengagumimu bahkan boleh dikatakan sangat mencintaimu. Tapi untuk berjanji setia menunggumu sampai kapanpun, aku belum berani. Aku takut kuasa Allah berkehendak lain. Aku takut bukan namamu yang tertulis di Lauh Mahfudz untukku. Jika benar bukan namamu yang tertulis, aku yakin siapapun itu pastilah pilihan paling tepat untukku.
Sampai kapanpun, aku selalu yakin akan janji-Nya. Karena janji-Nya selalu haq dan tak pernah keliru.
readmore »»  

Rabu, 12 Desember 2012

Lebih dari Puisi

Bila seratus puisi indah dipadu
Indahnya tak kan mampu saingi indah perangaimu
Seribu, sejuta, bahkan semilyar puisi dipadu sekalipun
Keindahan perangaimu tetap nomor satu
                                                                
Bila ribuan diksi dirangkai
Hasilkan rangkaian puisi yang utuh
Alirkan arus puisi yang lembut
Tak kan bisa tandingi lembutnya tuturmu

Bila jutaan kata dalam kamus
Dikembangkan jadi puisi
Puisi tuk lukiskan keindahanmu
Pastilah kata-kata itu habis sebelum saatnya

Bila barisan huruf A sampai Z
Dirangkai menjadi barisan kata
Untuk deskripsikan dasyatnya dirimu
Tetap tak kan mampu saingi keindahanmu.
Karena kamu…
Lebih dari sekedar puisiku.

readmore »»  

Senin, 12 November 2012

Musholla kecil itu, anak-anak itu...


Assalaamu’alaikum.
Pelangi, apa kabarmu? Baik-baik kan? maaf ya, baru bisa menyapamu lagi.
Akhir-akhir ini aku sibuk, menyibukkan diri lebih tepatnya hehe. Karena kalau aku gak menyibukkan diri seperti ini pasti aku disibukkan dengan hal-hal negatif seperti melamun, tiduran, pokoknya hal-hal yang gak produktif deh.
Mau tau gak hari ini aku sibuk ngapain? Mau tau aja apa mau tau banget ayoo? ^^
hari ini nano-nano seperti biasa, dibuka dengan kabar duka bahwa minggu depan yang harusnya libur dosennya keukeuh nyuruh masuk. Dongkol sih dikit, agenda yang sudah ku susun untuk pulang kampung minggu depan mesti ditunda dulu. Tapi, gak apa-apa ko aku ngerti banget kalau dosen itu memegang kekuasaan tertinggi diatas mahasiswa. Sebagai mahasiswa harus nrimo menghadapi tingkah dosen yang terkadang gak berprikemahasiswaan. hehehe.
Alhamdulillah, dongkolnya gak bertahan lama entah karena sudah terbiasa dikecewakan mungkin. ^^
Badan, pikiran, semangat oke lagi setelahnya. Alhamdulillaah..
Nah, sorenya aku gabung ke program buatan BEM Fakultasku namanya Smart Home, semacam Indonesia Mengajar cuma lingkupnya lebih kecil. Kita ngajarnya di suatu tempat yang disebut Dusun Binaan (Dusbin). Semangat banget deh ikut ini, disuruh kumpulnya sih jam empat tapi setengah empat teng aku udah hadiroh di gedung BEM. ehehe.
Sesampainya di Dusbin yang letaknya gak begitu jauh dari kampus. Aku kaget ketika melihat dusbinnya tepat berada di seberang kuburan china yang  luaaas banget lebih kaget lagi ketika melihat gak ada anak satupun disana. Apa mereka tau kalau hari ini ada aku ya jadi mereka takut dan memutuskan gak datang? Aduh, masa iya? Sebegitu menyeramkankah diriku? haha.
Seakan bisa membaca pikiranku, mbaknya langsung bilang katanya anak-anak kelas 4-6 sibuk les karena lagi musim-musimnya uts di SD. Serta merta aku bilang ‘oh’ tanpa komando. Sambil nunggu anak-anak lain, kita disuruh nunggu sambil kenalan sama calon pengajar yang lain. Ketika kami sedang berkenalan satu sama lain, ada seorang anak perempuan usia prasekolah datang sambil bawa tas gendong kecil bentuk kepala boneka warna merah menyala. Lucuuu sekali. Kiclik-kiclik-kiclik anak itu berjalan ke pusat lingkaran tempat kami duduk melingkar, diam sejenak, senyum-senyum, mendarat di pangkuanku yang sedang duduk bersila, meraih tanganku dan menciumnya. Ketika aku tanya namanya siapa, dia jawab dengan bibir mungilnya, “Nailil Izzatul Jannah” Lucunyaaa.. (^o^)
Sebenarnya aku merasa aneh kenapa anak itu memilih kakiku untuk menjadi tempat duduknya apa kakiku lebih mirip kursi reyot kali ya? hahaha. padahal disana banyak mba-mba yang baik-baik dan senior pula, sedangkan aku kan hadir disini baru pertama kali malah. Di tengah keherananku, datang lagi seorang anak perempuan kali ini agak besar. Tidak seperti Nailil yang langsung duduk di pangkuanku, anak ini berkeliling untuk menyalami kami satu-persatu terlebih dahulu sebelum akhirnya duduk di depanku di depan Nailil lebih tepatnya. Teman sesama pendatang baru di sampingku nyeletuk sambil menyenggolkan badannya ke arahku, “kamu favorit nih, cie..“
Kali ini bukan hanya aku yang heran, tapi semua yang ada disana ikutan heran. hehehe. Maaf telah membuat heran. ^^v Karena hari ini aku jadi pendatang baru yang katanya favorit, akhirnya aku disuruh ngajar anak-anak. Dibantu yang lain tentunya.  Asik asik.. seneng sih, tapi rela ko dibagi-bagi. hehe.
Sekian ceritaku hari ini, apa ceritamu? ^^
readmore »»  

Kamis, 25 Oktober 2012

Intellectual Crap



Ø  Kamu mau ngajarin aku gak?
Aku gak ketemu nih nyari entalpi, kenapa ya rumus entalpi gak bisa buat nyari perubahan cintaku ke kamu?

Ø  Kamu tahu kan kalau ikatan hydrogen itu kuat banget? Bahkan lebih kuat dari ikatan Van der Waals. Tapi, kenapa ya para ahli kimia belum tahu kalau ikatan kita jauh lebih kuat?

Ø  Aku tak peduli berapa atom yang dibutuhkan atom C dan atom H untuk berpasangan membentuk senyawa. Yang aku tahu, cukup satu atom Me dan satu atom U untuk membentuk senyawa Us.

Ø  Kalau ikatan cinta kita itu kovalen, maka gak ada kalkulator yang sanggup menghitung energi ikatan untuk memutuskan cinta kita kecuali atom cinta kita sendiri yang memutuskannya.

Plak plak plak. (^o^)”


readmore »»  

Seperti Bintang


Andai saja engkau tahu, resahku karenamu
Andai aku di benakmu, alangkah indah dunia
Bila ada satu nama ku rindu, slalu sebutkan dirimu
Seperti bintang indah matamu
Andaikan sinarnya untuk aku
Seperti ombak debar jantungku
Menanti jawabanmu
Pernah aku dengar darimu
Engkau kini sendiri
Namun adakah kau dengarkan aku
Yang benar inginkan kamu
Seperti bintang indah matamu
Andaikan sinarnya untuk aku
Seperti ombak debar jantungku
Menanti jawabanmu
Mungkin aku terlalu
Berharap dan tak tentu
Adakah aku di hatimu?
Seperti bintang indah matamu
Andaikan sinarnya untuk aku
Seperti ombak debar jantungku
Menanti jawabanmu.

Syair yang indah ya, Pelangi? kamu tahu gak siapa penciptanya? Yang jelas bukan aku. ^^
Karena  gak mungkin penyair amatir sepertiku menciptakan karya hebat ini hehe.
Coba deh perhatikan syairnya. Sepertinya syair ini terinspirasi darimu, Pelangi. mau bukti? Judunya saja “Seperti Bintang”, itu mewakili indahnya matamu yang berkilau seperti bintang.
Pelangiku hebat nih, bisa jadi inspirator karya sedasyat ini. Standing keprok deh buat kamu.
Syair lagu ini mewakili kamu banget, Pelangi. Oleh karena itu, aku sukaaa sekali lagu ini. Saking sukanya, lagu ini selalu jadi original soundtract sebelum tidur. Ehehe.
Sampun dulu ya ceritanya, aku mau packing nanti sore aku pulang ke Tasik. Doakan ya, Pelangi.
Surakarta, 25 Oktober 2012
readmore »»  

Selasa, 23 Oktober 2012

Selamat Menjadi Dirimu yang Baru, Pelangi.

Fajar semakin matang menjadi mentari, semakin bercahaya seiring berjalannya waktu. Begitupun dirimu, Pelangiku.
         
Mentari hari ini tersenyum lebih manis dari biasanya. Mungkin ia turut bahagia menyambut harimu yang baru. Subhanallah, bahkan semesta pun turut menyambut harimu yang baru. Luar biasa bukan?
                Aku selalu suka panorama pagi. Selalu kagum akan keindahannya yang menawan. Indah.. seperti indahnya senyum pelangiku di saat jumpa. Pagi ini adalah puncak dari segala keindahan itu karena pada hari ini pelangiku di langit sana sedang berbahagia menyambut harinya yang baru. Tentu akan bahagia sekali jika pagi ini aku bisa menemaninya, tapi sayang jarak bumi yang aku tinggali cukup jauh dari pelangiku. Meskipun mata tidak saling menatap biarlah pagi ini yang menyatukan kebahagiaan kami.
                Seiring usiamu yang semakin matang, banyak sekali yang kau ajarkan padaku tentang hidup. Kau mengajariku arti ketulusan dari keindahan  yang tak pernah minta balasan, kau mengajariku arti kelembutan dari lembutnya sinar yang kau pancarkan, kau meyakinkanku akan adanya keindahan setelah kegelapan dari hadirmu setelah hujan. Oleh sebab itulah, hingga saat ini aku sangat mengagumimu. Aku bahagia bisa mengagumimu meski kamu tak pernah tahu. Satu yang harus kamu tahu, perjalanan yang akan kamu tempuh selanjutnya jauh dan melelahkan. Aku tidak berjanji aku akan selalu membantu menyelesaikan setiap kelelahanmu, tapi aku berjanji akan menemanimu bertahan melewati kelelahan itu. You can keep my word, insya Allah. ^^v
                Selamat menjadi dirimu yang baru, Pelangiku. Semoga bertambah keindahanmu, semoga harimu makin indah, dan semoga pancaran keindahanmu mendatangkan berkah. Aamiin.

Surakarta, 23 Oktober 2012


Rainbow’s  admirer,

readmore »»